Dan tidak selalu orang yang kita sukai, layak kita perjuangkan untuk masa depan dunia dan akhirat.
Seberapa lamapun kita pernah menyukai seseorang, bahkan jika sampai saat ini kita masih menyukainya,
rasa suka hanyalah perasaan sesaat yang tidak abadi.
Ikatannya harus abadi. Pernikahannya, bukan perasaannya. Perasaan hanyalah produk hati yang berbolak-balik.
Kadang menyenangkan, kadang menyebalkan.
-NA-
coklat yang murni hadir dengan kesederhanaannya, manisnya memiliki sedikit rasa pahit. tak perlu menjadi orang lain, cukup menjadi diri sendiri untuk kemudian berjuang dan beramal shalih di jalan Allah. sebab coklat itu coklat.
Kamis, 27 Juni 2013
Minggu, 12 Mei 2013
Cinta Bersemi di Pelaminan
Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.
Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.
Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh seorang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu! Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.
Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh dilahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.
Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.
Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.
*Serial Cinta, Anis Matta
Rabu, 24 April 2013
Sulit, Mudah, RidhaNya
satu waktu, sudah lama sekali
seseorang berkata dengan wajah sendu
“alangkah beratnya…. Alangkah banyak rintangan….
alangkah berbilang sandungan….. alangkah rumitnya.”
aku bertanya, “lalu”?
dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk
“Apakah sebaiknya ku hentikan saja ikhtiar ini?
“hanya karena itu kau menyerah kawan?”
aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup
menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya
“yah… bagaimana lagi? Tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Allah tak meridhainya?”
aku membersamainya menghela nafas panjang
lalu bertanya, “andai Muhammad, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
berpikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah islam di muka bumi?”
“maksudmu akhi”, ia terbelalak
“ya, andai Muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan
berarti tak di ridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?
ada banyak titik sepertimu saat ini, saat Muhammad
bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar
mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat dibagian leher
mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta
mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu
mungkin saat dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir
mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib
mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang
atau justru saat dunia ditawarkan padanya; tahta, harta wanita…”
“jika Muhammad berpikir sebagaimana engkau menalar
tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?
tapi Muhammad tahu, kawan
ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya
berat atau ringannya, bahagia atau deritanya
senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”
“ridha Allah terletak pada
apakah kita menaatiNya
dalam menghadapi semua itu
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan laranganNya
dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan”
“maka selama di situ engkau berjalan
bersemangatlah kawan..”
-Salim A. Fillah-
Ancaman Kesia-siaan
Para pahlawan mukmin sejati harus ekstra hati-hati dengan kepahlawanannya sendiri. Mereka harus membiasakan diri untuk mencurigai diri mereka sendiri; sebab jauh lebih penting dari sekedar menjadi pahlawan adalah memastikan, bahwa karya-karya kepahlawanan kita diterima di sisi Allah SWT, sebagai pahala yang akan mengantarkan kita meraih ridho-Nya dan masuk ke surga-Nya.
Manusia hanyalah user atau penikmat dari karya-karya kepahlawanan kita. Mereka sama sekali tidak mempunyai otoritas untuk menentukan, apakah karya itu diterima atau ditolak di sisi Allah SWT. Syarat penerimaan itu ditentukan sendiri oleh Allah SWT; niat yang ikhlas untuk Allah SWT, dan cara kerja yang sesuai dengan sunnah Nabi.
Para pahlawan mukmin sejati menyadari sedalam-dalamnya untuk siapa sebenarnya ia bekerja. Mereka menyadari adanya ancaman kesia-siaan; kerja keras di dunia yang kemudian ditolak di akhirat, seperti firman Allah SWT, “Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api neraka yang sangat panas (neraka).” (QS Al Ghasyiyah: 2-4).
Dalam perjalanan ke Palestina setelah pembebasan al Quds, Umar bin Khattab berhenti sejenak menyaksikan seorang pendeta yang sedang khusyuk beribadah. Kemudian Umar menangis tersedu-sedu, sembari membaca ayat di atas, “Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api neraka yang sangat panas (neraka).”
Gemuruh tepuk tangan pengagum, sanjungan mematikan para pengikut, dukungan obyektif para pengamat, atau bahkan tembakan salvo pada hari penguburan, adalah obyek yang harus dicurigai para pahlawan; sebab merasa menjadi pahlawan bisa merusak niat mereka. Demikian juga dengan cara kita menuntaskan karya kepahlawanan kita; pembenaran orang lain tidak akan berguna di mata Allah SWT kalau ternyata pekerjaan itu memang salah menurut sunnah.
Para pahlawan mukmin sejati adalah pekerja keras yang menunaikan janji kepahlawanannya dalam diam., menyelesaikan karya-karyanya dengan semangat kebenaran sejati. Mereka jujur kepada Allah SWT, kepada diri sendiri serta kepada sejarah. Mereka tidak tertarik dengan hingar-bingar, pengakuan public, atau sorotan kamera, sebab itu bukan tujuannya, sebab itu bukan kebanggaannya.
Di hadapan ancaman kesia-siaan itu mereka menemukan kekuatan untuk mengasah kejujuran batinnya secara terus menerus, mengoreksi pekerjaan-pekerjaannya secara berkesinambungan; sebab dengan begitulah mereka mempertahankan keikhlasan dan kerendahan hati di depan Allah SWT, mematikan luapan kebanggaan setelah prestasi-prestasi besarnya, sembari berdoa diantara deru kecemasan dan harapan agar Allah SWT berkenan menerima mereka sebagai pahlawan-pahlawan-Nya.
Para pahlawan mukmin selalu mengenang saat-saat yang paling mengharu-biru dari kehidupan Umar bin Abdul Azis; beberapa saat menjelang hembusan nafasnya yang terakhir, pahlawan besar itu membaca firman Allah SWT, “Dan itulah negeri akhirat, yang Kami sediakan untuk orang-orang yang tidak menginginkan keangkuhan di muka bumi, juga tidak menginginkan kerusakan.” (QS Al Qashash: 83)
( mHa )
*copas
Dakwah Adalah CINTA
Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik?
Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi.
Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
Ust. Rahmat Abdullah
Langganan:
Postingan (Atom)